Kampung Burni Bius di Kecamatan Silih Nara memiliki sejarah panjang yang erat kaitannya dengan masa kolonial Belanda hingga perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pada era kolonial, kawasan ini dikenal sebagai salah satu pusat perkebunan kopi yang dikelola oleh Belanda. Lahan-lahan datar dimanfaatkan secara intensif untuk budidaya kopi, sementara wilayah perbukitan tetap dijaga sebagai hutan lindung. Di sekitar kawasan ini juga terdapat Wih Porak, sebuah pemandian air panas yang diyakini dibangun oleh Belanda sebagai tempat peristirahatan. Hingga kini, jejak tata kelola perkebunan tersebut masih terlihat dalam pola dan struktur lahan pertanian masyarakat. Memasuki masa perjuangan kemerdekaan, Burni Bius memiliki peran penting sebagai bagian dari wilayah persembunyian strategis Pemerintah Darurat Republik Indonesia (PDRI) yang dipimpin oleh Mr. Syafruddin Prawiranegara, bersama desa Jamur Barat. Wilayah ini menjadi titik koordinasi penting dalam mempertahankan eksistensi Republik Indonesia di tengah tekanan agresi militer Belanda.
Seiring berjalannya waktu, Kampung Burni Bius mengalami perkembangan wilayah akibat pertumbuhan penduduk. Kampung ini kemudian terbagi menjadi beberapa bagian administratif, yaitu Burni Bius Induk yang dikenal sebagai Totor Serong dan Burni Bius Baru sebagai hasil pemekaran yang kini berdiri sebagai gampong mandiri sejak tahun 2000. Burni Bius Baru merupakan salah satu dari 33 kampung yang berada di Kemukiman Silih Nara, Kabupaten Aceh Tengah, terdiri dari tiga dusun yaitu Dusun I, Dusun II, dan Dusun III, dengan jumlah penduduk sekitar 502 jiwa. Kampung ini dikenal sebagai kampung pertanian yang memiliki kondisi geografis bergunung-gunung sehingga sangat potensial untuk pengembangan perkebunan, serta berjarak sekitar 3 km dari pusat kecamatan. Sistem pemerintahan yang diterapkan tetap berlandaskan adat Gayo melalui sistem Sarakopat, dengan pemimpin kampung yang disebut Reje Kampung sesuai dengan ketentuan Qanun Kabupaten Aceh Tengah. Secara etimologis, nama Burni Bius berasal dari bahasa Gayo, di mana “Burni” berarti gunung atau bukit, sedangkan “Bius” berkaitan dengan konsep adat seperti pembagian wilayah atau sistem pengelolaan ulayat. Hingga saat ini, Burni Bius tetap dikenal sebagai salah satu daerah penghasil kopi unggulan di Aceh Tengah, melanjutkan tradisi yang telah diwariskan sejak lebih dari satu abad lalu.